SERAMBI ISLAM – Majelis Bangsa Indonesia (MBI) yang terdiri para ulama, cendikiawan, sultan, raja, pangeran, aktivis dan unsur-unsur lainnya mengambil momentum yang tepat.
Mereka memberi gelar Pahlawan Revolusi Akhlak Nasional kepada 6 orang pemuda santri pengawal Habib Rizieq Shihab (HRS) yang dibunuh pada Desember 2020.
Dibacakan oleh Habib Muchsin, MBI menganggap kepada 6 orang pemuda tersebut sangat layak menerima Gelar Pahlawan Revolusi Akhlak Nasional. Mengapa begitu?
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Menjawab Pertumbuhan Pariwisata, Archipelago Hotels Terus Berkembang Menjangkau Beragam Pasar
Coway Raih Penghargaan IDEA Design Awards 2026, Lengkapi “Grand Slam” Desain Internasional

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertama, selama gerakan Revolusi Akhlak digaungkan oleh Habib Rizieq Shihab tidak ada 1 rupiah pun dana yang dikucurkan untuk gerakan pembenahan akhlak bangsa ini, khususnya akhlak umat Islam.
Kedua, peran Habib Rizieq Shihab yang Sukarnois dengan pemahaman ideologi Pancasila jauh di atas lulusan Lemhannas sekalipun
Ternyata masih siap membenahi moral bangsa yang terdegradasi dengan aneka kejahatan pidana.
Baca Juga:
Gravity Game Unite Resmi Luncurkan Ragnarok Zero: Global pada 18 Agustus
Salon “Go Guangdong, Go Global” Sesi Indonesia Digelar di Guangzhou
Ketiga, darma bakti Habib Rizieq Shihab di bidang sosial sangat menonjol di berbagai bencana alam.
Mulai dari Tsunami Aceh 2004, gempa bumi di Yogyakarta dan lainnya.
Keempat, konsistensi Habib Rizieq Shihab menolak perjudiian, minuman keras, pelacuran dan kejahatan narkoba serta lainnya hingga saat ini belum mengendur.
Sosok imam besar itu rela berkorban dipenjara hanya karena berucap “Saya baik-baik saja”.
Baca Juga:
Xinhua Silk Road: Jurnalis Muda Afrika Jajaki Peluang Kerja Sama Baru Tiongkok-Afrika di Hunan
NagaWorld Raih Sertifikasi Great Place To Work® 2026 dengan Skor Trust Index™ 97%
Padahal kesalahan serupa dilakukan oleh oknum penguasa tanpa kena sanksi.
Kelima, momentum penyidikan terbunuhnya Brigadir J bisa membuka kotak pendora kejahatan yang dianggap mafioso berseragam.
Hendaknya tetap kita anggap sebagai oknum belaka, jangan menggeneralisasi.
Apa yang dilakukan oleh MBI merupakan cara kritik yang bermartabat.
Sekarang tinggal penguasa, adakah keinginan untuk menerima masukan yang selama ini disampaikan oleh kalangan masyarakat?
Oleh: Suta Widhya SH, Pengacara Rakyat.***

















