SERAMBI ISLAM – Ribuan orang berunjuk rasa di ibu kota Moldova pada Minggu 25 September 2022 untuk akhir pekan kedua berturut-turut guna menuntut pengunduran diri pemerintah yang pro-Barat.
Tuntutan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya kemarahan publik terkait kenaikan harga gas alam dan inflasi.
Negara Eropa timur yang kecil itu, yang berada di antara Ukraina dan Rumania, telah mengalami ketegangan politik dalam beberapa bulan terakhir, sementara harga gas terus melonjak pasca invasi Rusia ke Ukraina.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
CHiQ Raih “AI Home Ecosystem Brand Award”, Hadirkan Pengalaman Gaya Hidup Cerdas Lewat Inovasi AI
Konferensi Promosi Pariwisata Budaya Henan dan Pameran Budaya Heluo Digelar di Indonesia
Hisense Perpanjang Kemitraan dengan UEFA sebagai Sponsor Resmi UEFA EURO 2028

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang reporter Reuters memperkirakan terdapat sekitar 5.000 orang berada di luar kediaman resmi Presiden Maia Sandu — lebih sedikit dari kerumunan yang tercatat pada Minggu18 September 2022 lalu.
Para demonstran meneriakkan “Maia Sandu mundur,” dan “Pemerintah mundur” dalam aksi tersebut.
Aksi-aksi itu adalah yang terbesar sejak Sandu menang besar dalam pemilu 2020 dengan mengusung kampanye anti-korupsi.
Baca Juga:
Gupshup Meluncurkan Voice AI Platform Mandiri, Memperluas Interaksi Percakapan ke Panggilan Telepon
Kehidupan yang Didukung AI: TCL Hadirkan Inovasi AI dalam Kehidupan Sehari-hari di IFA 2026
Hisense Perkenalkan Konsep “Companion Living” Berbasis AI di IFA 2026
Tapi demonstrasi itu tidak segera mengancam presiden dan pemerintahannya.
Sandu telah berulangkali mengecam aksi Rusia di Ukraina. Ia juga mendorong Moldova untuk segera bergabung dengan Uni Eropa, yang telah memberikan bantuan sangat besar kepada negara bekas Soviet itu.***
Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Serambiislam.com, semoga bermanfaat.














