
CATATAN SERAMBI ISLAM
- Diniyyah Al-Azhar Jambi menginisiasi kunjungan Duta Besar Palestina Abdulfattah A.K. Al-Sattari ke Jambi melalui undangan untuk membuka Musabaqah al-Arabiyyah tingkat nasional 2026 dan mengisi kuliah umum di STKIP serta STIT Al-Azhar Diniyyah.
- Kunjungan Dubes Palestina pada 14–17 Oktober 2026 menjadi momentum bersejarah bagi Jambi, sekaligus membuka ruang diplomasi pendidikan, pengenalan kebudayaan, dan penguatan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.
- Kiprah Diniyyah Al-Azhar menunjukkan bahwa peran lembaga pendidikan tidak terbatas pada ruang kelas, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat ukhuwah, membangun jejaring internasional, dan mendukung kemajuan Provinsi Jambi.
SERAMBIISLAM.COM — Kehadiran Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah A.K. Al-Sattari, di Provinsi Jambi pada 14–17 Oktober 2026 menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan dan hubungan kemanusiaan di daerah itu. Kunjungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan Musabaqah al-Arabiyyah tingkat nasional 2026, tetapi juga menjadi gambaran bagaimana lembaga pendidikan dapat membangun jembatan persaudaraan dan memperluas hubungan hingga tingkat internasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kunjungan itu berawal dari inisiatif Direktur Pendidikan Diniyyah Al-Azhar Indonesia, H.M. Hafizh El Yusufi, yang menemui Al-Sattari di Kantor Kedutaan Besar Palestina di Jakarta pada 9 Oktober 2026. Dalam pertemuan tersebut, Hafizh memperkenalkan kiprah Diniyyah Al-Azhar sekaligus menyampaikan undangan kepada Dubes Palestina untuk datang ke Jambi.
Undangan itu mencakup dua agenda utama, yakni membuka Musabaqah al-Arabiyyah tingkat nasional 2026 dan mengisi kuliah umum di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Al-Azhar Diniyyah serta Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Azhar Diniyyah.
Pertemuan tersebut menjadi titik awal dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan dunia pendidikan, diplomasi, kebudayaan, dan solidaritas kemanusiaan. Menurut keterangan pihak penyelenggara, kunjungan Al-Sattari juga mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya Duta Besar Palestina berkunjung ke Provinsi Jambi.
Dari Pertemuan di Jakarta Menuju Jambi
Pertemuan Hafizh El Yusufi dengan Al-Sattari berlangsung dalam suasana hangat. Selain memperkenalkan lembaga pendidikan yang dipimpinnya, Hafizh menyampaikan harapan agar hubungan antara Diniyyah Al-Azhar dan masyarakat Palestina dapat dibangun melalui jalur pendidikan dan kebudayaan.
Dalam pertemuan itu, keduanya juga berbincang mengenai situasi Palestina dan persoalan kemanusiaan yang dihadapi rakyatnya. Percakapan tersebut memberikan dimensi yang lebih personal pada hubungan yang hendak dibangun, bukan sekadar pertemuan formal antara pengelola lembaga pendidikan dan seorang pejabat diplomatik.
Hafizh kemudian mengundang Al-Sattari untuk berkunjung ke Jambi. Undangan tersebut disambut baik, sehingga direncanakanlah kunjungan pada 14–17 Oktober 2026.
Bagi Diniyyah Al-Azhar, langkah ini merupakan bagian dari upaya memperluas manfaat pendidikan. Lembaga pendidikan tidak hanya bertugas mengembangkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik, tetapi juga dapat membuka ruang perjumpaan dengan tokoh internasional, memperkenalkan kebudayaan daerah, serta menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan global.
Kunjungan Bersejarah bagi Masyarakat Jambi
Pada Rabu, 14 Oktober 2026, Al-Sattari tiba di Jambi dan disambut keluarga besar Diniyyah Al-Azhar bersama jajaran pengelola pendidikan, pendidik, dan para siswa.
Penyambutan tersebut melibatkan Pendiri sekaligus Ketua Yayasan Pondok Pesantren Diniyyah Al-Azhar, Umi Dra. Hj. Rosmaini, M.S., M.Pd.I.; Direktur Pendidikan Diniyyah Al-Azhar Indonesia, H.M. Hafizh El Yusufi, S.Pd.I., M.M.; serta Pimpinan Pondok Pesantren Diniyyah Al-Azhar Muaro Bungo, KH. M. Zulfadhli El-Yusufi, Lc., M.Pd.
Gubernur Jambi Al Haris dan Wali Kota Jambi Maulana juga disebut turut menyambut kedatangan Dubes Palestina tersebut.
Menurut pihak penyelenggara, kehadiran Al-Sattari menjadi catatan sejarah baru bagi Jambi karena belum pernah ada kunjungan Duta Besar Palestina ke provinsi tersebut sebelumnya. Klaim mengenai kunjungan pertama ini perlu dipahami sebagai keterangan penyelenggara yang masih memerlukan verifikasi melalui catatan historis independen.
Meski demikian, arti penting kunjungan tersebut tidak hanya terletak pada statusnya sebagai kunjungan diplomatik. Peristiwa itu membuka kesempatan bagi masyarakat Jambi untuk berinteraksi secara langsung dengan perwakilan Palestina dan menyampaikan solidaritas terhadap perjuangan kemanusiaan rakyatnya.
Musabaqah al-Arabiyyah Perkuat Pendidikan dan Persaudaraan
Salah satu agenda utama kunjungan Al-Sattari adalah Musabaqah al-Arabiyyah tingkat nasional 2026 yang diselenggarakan Diniyyah Al-Azhar di Maulidia Convention Center, Kota Jambi.
Ajang ini menjadi ruang bagi pelajar dan peserta dari berbagai daerah untuk mengembangkan kemampuan bahasa Arab sekaligus mempererat hubungan antargenerasi muda. Berdasarkan laporan institusi pendidikan yang terlibat, peserta dari 14 provinsi mengikuti kompetisi tersebut.
Sejumlah cabang yang diperlombakan meliputi lagu Arab, syarhil Qur’an, debat bahasa Arab, kalam jama’i, kaligrafi, dan insya’ atau mengarang. Kegiatan tersebut juga melibatkan akademisi sebagai juri, termasuk dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Kehadiran Dubes Palestina memberikan dimensi tambahan bagi kegiatan tersebut. Bahasa Arab tidak hanya dipelajari sebagai mata pelajaran, tetapi juga menjadi sarana memahami kebudayaan, membangun komunikasi lintas bangsa, dan mengenali persoalan yang dihadapi masyarakat di berbagai belahan dunia.
Melalui kegiatan semacam ini, Diniyyah Al-Azhar memperlihatkan bahwa kompetisi akademik dapat berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan persaudaraan. Peserta tidak hanya didorong untuk berprestasi, tetapi juga diajak memperluas wawasan mengenai hubungan antarmasyarakat dan nilai-nilai kemanusiaan.
Kuliah Umum Membawa Perspektif Internasional ke Kampus
Selain menghadiri musabaqah, Al-Sattari dijadwalkan mengisi kuliah umum di STKIP dan STIT Al-Azhar Diniyyah. Agenda ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal diplomasi dan hubungan Indonesia-Palestina melalui perspektif seorang diplomat.
Bagi perguruan tinggi, pertemuan dengan tokoh internasional dapat melengkapi pembelajaran di kelas. Mahasiswa berkesempatan memahami bahwa persoalan internasional berkaitan erat dengan pendidikan, kebudayaan, komunikasi, dan tanggung jawab kemanusiaan.
STKIP Al-Azhar Diniyyah memiliki orientasi pada pengembangan pendidikan dan tenaga pendidik, sedangkan STIT Al-Azhar Diniyyah berfokus pada bidang tarbiyah dan pendidikan Islam. Melalui kegiatan akademik yang membuka ruang dialog internasional, kedua institusi tersebut memiliki kesempatan untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat nilai kepedulian sosial.
Perguruan tinggi di daerah, dengan demikian, tidak harus membatasi diri pada kegiatan akademik internal. Kampus dapat menjadi ruang dialog yang menghubungkan mahasiswa dengan perkembangan dunia, pengalaman lintas budaya, dan persoalan kemanusiaan.
Memperkenalkan Kekayaan Sejarah dan Budaya Jambi
Rangkaian kunjungan Al-Sattari juga direncanakan mencakup sejumlah destinasi bersejarah di Jambi, antara lain Kompleks Candi Muaro Jambi, Menara Gentala Arasy, museum, serta kampus Diniyyah Al-Azhar di kawasan Sungai Kambang.
Kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk memperkenalkan identitas sejarah dan kebudayaan Jambi kepada tamu internasional. Kompleks Candi Muaro Jambi merupakan kawasan peninggalan sejarah penting di Sumatera, sedangkan Menara Gentala Arasy menjadi salah satu ikon yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam di Jambi.
Diplomasi kebudayaan memiliki arti penting karena hubungan antarmasyarakat tidak hanya tumbuh melalui pertemuan formal, tetapi juga melalui pengenalan sejarah, tradisi, dan kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ini, Diniyyah Al-Azhar berperan sebagai penghubung antara tamu internasional dan lingkungan masyarakat setempat. Kegiatan tersebut sekaligus membuka peluang untuk memperkenalkan Jambi sebagai daerah yang memiliki kekayaan sejarah, tradisi keislaman, dan potensi pengembangan pendidikan.
Kontribusi yang Melampaui Ruang Kelas
Rangkaian kegiatan bersama Dubes Palestina menunjukkan bahwa peran Diniyyah Al-Azhar tidak berhenti pada penyelenggaraan pendidikan formal. Melalui musabaqah, kuliah umum, silaturahmi, dan pengenalan kebudayaan, lembaga ini ikut membuka ruang kerja sama yang manfaatnya dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Pendidikan tetap menjadi fondasi utama. Namun, pendidikan yang berkembang dengan baik juga dapat melahirkan inisiatif sosial, memperkuat hubungan antarlembaga, dan membangun kepedulian terhadap persoalan di luar lingkungan sekolah.
Musabaqah al-Arabiyyah mempertemukan peserta dari berbagai provinsi. Kuliah umum membuka kesempatan pertukaran pengetahuan. Sementara itu, kunjungan Dubes Palestina memberikan ruang untuk memperkuat ukhuwah dan menyampaikan solidaritas kemanusiaan.
Berbagai kegiatan tersebut berpotensi memperluas jejaring pendidikan di Jambi sekaligus memperkenalkan daerah kepada mitra di tingkat nasional dan internasional. Jika ditindaklanjuti melalui kerja sama yang berkelanjutan, manfaatnya dapat berkembang menjadi pertukaran pengetahuan, kegiatan kebudayaan, dan program kemanusiaan.
Kemajuan daerah memang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga masyarakat. Diniyyah Al-Azhar dapat mengambil bagian dalam kerja bersama itu dengan menghadirkan program yang menghubungkan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan kepedulian sosial.
Menjadikan Pendidikan sebagai Jembatan Kemanusiaan
Kunjungan Dubes Palestina ke Jambi membawa pesan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk membangun hubungan yang melampaui batas geografis. Melalui pendidikan, generasi muda tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar memahami pengalaman masyarakat lain, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan empati.
Kepedulian terhadap Palestina, dalam kerangka tersebut, dapat diwujudkan melalui dialog, pendidikan, pengenalan sejarah, penyebaran informasi yang bertanggung jawab, dan kegiatan solidaritas yang menjunjung martabat manusia.
Bagi Diniyyah Al-Azhar, momentum ini dapat menjadi pijakan untuk memperluas kontribusi di bidang pendidikan sekaligus membangun kerja sama yang lebih luas. Bagi Provinsi Jambi, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah dan memperkuat hubungan masyarakat dengan dunia internasional.
Pada akhirnya, nilai penting dari kunjungan ini bukan semata-mata kehadiran seorang duta besar, melainkan terbukanya ruang perjumpaan yang menghubungkan pendidikan, kebudayaan, ukhuwah, dan kemanusiaan.
Diniyyah Al-Azhar menunjukkan bahwa lembaga pendidikan di daerah dapat mengambil peran aktif dalam membangun hubungan internasional melalui inisiatif yang berangkat dari dunia pendidikan. Dengan program yang terarah dan berkelanjutan, peran tersebut berpotensi memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat serta ikut mendukung kemajuan Provinsi Jambi. ***

















