SERAMBI ISLAM – Masjid Agung Darusssalam Cilacap
Didirikan Tahun 1776 oleh Keturunan Sunan Kalijaga – Masjid Agung Darussalam, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, penuh dengan jemaah, pada akhir pekan lalu.
Mereka hendak melakukan Salat Isya dan Salat Tarawih berjemaah. Tua, muda, hingga anak-anak bersama menunaikan ibadah salat. Jemaah tersebar di lantai 1 dan 2 masjid.
Suasana masjid terasa nyaman. Selain sirkulasi udara yang mendukung, juga arsitektur bangunan yang memesona.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Dorong Revolusi Pangan Global, Teknologi “Food Processing” Jepang Tampil di Panggung Dunia
Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal itu seolah menambah khusyuk warga yang tengah mendirikan salat di masjid tua tersebut.
Ketua Takmir Masjid Agung Darussalam Cilacap KH Muslihun Ashari mengatakan, dari sejarah yang diketahuinya, masjid itu termasuk masjid tua.
“Sejarah dari mulut ke mulut, memang kurang lebih 2 abad lalu masjid ini didirikan,” kata Muslihun ditemui di Masjid Agung Darussalam Cilacap, baru-baru ini.
Baca Juga:
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital
CGTN: Awal yang Solid dalam Repelita Ke-15 Tiongkok, Apa Maknanya?
Muslihun juga memperlihatkan beduk kuno di masjid tersebut, kemudian memperlihatkan adanya tulisan yang tertera di badan beduk.
Yaitu terdapat angka berbahasa Arab 1776. Dia menuturkan jika angka itu menunjukkan tahun awal pembuatan masjid yaitu tahun 1776 masehi.
Menilik sejarah pula, masjid didirikan oleh keturunan atau murid Sunan Kalijaga. Yaitu Kiai Kali Husen dan Kiai Kali Ibrahim.
Para pendiri masjid itu membangun masjid ketika Cilacap belum menjadi kabupaten seperti sekarang ini.
Baca Juga:
ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”
Hisense Berkolaborasi dengan “Phantom Blade Zero”, Hadirkan Pengalaman Gim RGB Generasi Baru
Hikvision Umumkan Kinerja Keuangan Periode 2025 dan Triwulan I-2026
Tidak hanya itu, kata dia, Masjid Agung Darussalam juga memiliki keunikan yaitu jumlah tiang yang berbeda dengan masjid lainnya.
Biasanya masjid memiliki empat tiang saka guru, tapi di Masjid Agung memiliki tiang yang lebih banyak.
“Di Masjid Agung Darussalam, tiang saka guru di masjid tidak seperti masjid lain yang hanya empat.”
“Di masjid ini, tiangnya ada 22, plus tiang yang ada di sekitar masjid. Jumlah total ada 36 tiang,” ujarnya.
Tempat ibadah yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Desa Sidanegara, Kecamatan Cilacap, ini juga disebut sebagai bangunan cagar budaya.
Mengingat usianya yang sudah dua abad. Meski telah beberapa kali direhab, namun tetap mempertahankan ciri khas masjid.
Salah satunya tetap mempertahankan bentuk atap masjid, yang sekilas mirip dengan Masjid Agung Demak.
“Mungkin karena pendiri tak lepas dari cucu pendiri Masjid Kadilangu Demak (Sunan Kalijaga),” ucapnya.
Pada Ramadan ini, masjid tersebut selalu ramai dengan kegiatan. Mulai dari pengajian jelang waktu Magrib, pengajian jelang Salat Tarawih, tadarus, penyediaan takjil, dan kajian bakda Salat Subuh.
“Di Ramadan suci ini, kami mengajak masyarakat, mari makmurkan masjid,” tandasnya. (Diskominfo Jateng).***
Buat yang hobby berbagi tulisan, ayo menulis hikayat, cerita rakyat ataupun asal usul sejarah di kota Anda, artikel dapat dikirim lewat WhatsApp ke: 0855-7777888.
Boleh rewrite (menulis ulang) dari sumber resmi maupun website pemerintah dengan mencantumkan sumbernya, namun dilarang menyadur dari portal berita atau media online lain.



















