SERAMBI ISLAM – bertepatan dengan akhir Safar 1444 Hijriyah. Sebagian masyarakat Indonesia tidak berani menggelar pernikahan di Safar.
Alasannya, Safar dianggap membawa pada nasib buruk atau kesialan. Pandangan ini seolah turun temurun diwarisi dari generasi ke generasi.
Sebenarnya, seperti apa sejarah penamaan bulan ini? Apa saja peristiwa penting di dalamnya? dan bagaimana ajaran Islam memandang bulan kedua setelah Muharram pada kalender Hijriyah ini?
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Dari Kertas Xuan hingga Desa Xidi, Rombongan Diplomat Menjelajahi Warisan Budaya Anhui
Changhong Gandeng Ikon Pop Indonesia Rossa untuk Memperkuat Jangkauan di Pasar Indonesia
Coolita Luncurkan FAST Media Alliance Pertama di Indonesia Bersama Sejumlah Stasiun TV Terkemuka

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejarah penamaan Safar
Kata Safar sendiri terdiri dari tiga huruf shad, fa’, dan ra’ bila digabung akan memiliki variasi cara baca dan memiliki banyak arti.
Dalam kamus Lisanul ‘Arab karya Ibnu Mandzur, kata ini dapat berarti warna kuning (Shufrah) dapat pula berarti kosong (Shafar). (Ibnu Mandzur, Lisanul ‘Arab, Beirut, juz 4, hlm. 460-462)



















