DI sebuah ruang virtual yang sederhana, suara-suara itu terdengar pelan dan hati-hati.
Ada yang masih terbata membaca ayat. Ada yang beberapa kali berhenti karena takut salah. Sebagian bahkan meminta maaf sebelum mulai mengaji.
Di hadapan layar, Putri Syairah Laifa Khatun Zer mendengarkan semuanya dengan tenang.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Pameran Kanton ke-139 mencetak rekor baru dalam jumlah kehadiran pembeli luar negeri
Hisense Luncurkan XR10: Proyektor Premium yang Hadirkan Pengalaman Sinematik di Rumah

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tidak apa-apa. Kita belajar pelan-pelan,” katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi banyak muridnya, itu adalah pengalaman yang baru: belajar Al-Qur’an tanpa rasa malu.
Di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat, semakin banyak orang dewasa ingin kembali belajar agama, tetapi tidak semua menemukan ruang yang nyaman untuk memulai. Ada yang merasa terlambat karena usia. Ada yang sibuk bekerja. Ada pula yang menyimpan pengalaman tidak menyenangkan saat belajar mengaji di masa kecil.
Baca Juga:
“Now Is Your Spark”: Huawei Dukung Pengguna Kendalikan Hidup dengan Teknologi untuk Seluruh Skenario
USANA Adakan Spa & Wellness Retreat Inspiratif Untuk Mendukung Perempuan di Asia Pasifik
Fenomena itu yang dilihat Laifa selama bertahun-tahun.
Dari kegelisahan tersebut, lahirlah El-Laifa Quran Academy di Pekanbaru, Riau, pada 1 Agustus 2024. Akademi berbasis online ini dibangun dengan pendekatan yang berbeda: tidak hanya mengajarkan tajwid atau hafalan, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang lebih ramah, fleksibel, dan manusiawi.
Tagline akademi itu sederhana: Living the Qur’an, Loving the Journey.
Sebuah pesan bahwa belajar Al-Qur’an bukan semata soal target, melainkan perjalanan yang dijalani perlahan dan penuh makna.
Baca Juga:
Eternal Tower Saga (ETS) Luncurkan Tahap Open Beta pada 7 Mei 2026
Pylontech Tercantum dalam Daftar “BloombergNEF Tier 1 Energy Storage Manufacturer”
Perjalanan Laifa sendiri dimulai jauh sebelum akademi itu berdiri.
Ia tumbuh di Medan dan Pematangsiantar, Sumatera Utara, dalam keluarga dengan perpaduan budaya Jawa dan Minang. Sejak usia muda, Al-Qur’an telah menjadi bagian penting dalam kesehariannya.
Pada 1996, ia mulai mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat kota. Saat itu, akses teknologi dan media belum seperti sekarang. Prestasi dibangun melalui latihan panjang dan disiplin yang dijaga bertahun-tahun.
Laifa tidak berhenti di satu panggung.
Dari 2004 hingga 2022, ia tercatat 13 kali tampil di ajang MTQ tingkat nasional mewakili provinsinya. Enam kali di antaranya ia meraih gelar juara nasional di bidang Tahfizh dan Tafsir, termasuk kategori bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Namun bagi Laifa, pencapaian itu bukan alasan untuk berhenti belajar.
Ia melanjutkan pendidikan Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Institut Ilmu Qur’an Jakarta setelah sebelumnya menempuh studi Ilmu Komunikasi di Universitas Sumatera Utara.
Perpaduan dua bidang ilmu itu membentuk cara mengajarnya hari ini: mendalam secara akademik, tetapi tetap dekat dengan bahasa keseharian masyarakat.
Ketika menetap di Pekanbaru dan membangun keluarga bersama tiga anaknya, Laifa mulai melihat perubahan besar dalam cara masyarakat belajar agama.
Banyak orang ingin memahami Al-Qur’an, tetapi terbentur waktu, rasa minder, hingga tekanan sosial. Sebagian merasa takut dianggap kurang religius karena belum lancar membaca.
Di sisi lain, dunia digital justru membuka kemungkinan baru.
Internet memungkinkan seseorang belajar dari rumah, dari sela kesibukan kerja, bahkan dari luar negeri.
Laifa melihat peluang itu bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan jembatan untuk menjangkau lebih banyak orang yang selama ini merasa jauh dari ruang belajar agama.
Karena itu, El-Laifa Quran Academy sejak awal dirancang sepenuhnya berbasis online. Programnya mencakup Tajwid, Tahfizh, Tilawah, Tartil, Qira’at, hingga Tafsir. Namun yang menjadi kekuatan utama bukan hanya materi pembelajarannya, melainkan pendekatan yang menempatkan murid sebagai manusia dengan ritme belajar yang berbeda-beda.
Di tengah budaya digital yang sering cepat menghakimi, pendekatan seperti ini terasa penting.
Bagi Laifa, membangun akademi bukan sekadar membuka kelas.
Ia ingin menghadirkan tempat di mana orang merasa aman untuk kembali belajar, tanpa takut dipermalukan karena kesalahan-kesalahan kecil.
Prinsip itu kemudian menjadi dasar lima nilai utama akademi: berpusat pada Al-Qur’an, humanis dan penuh rahmah, ilmiah dan bertanggung jawab, fleksibel terhadap kehidupan modern, serta konsisten dalam perjalanan belajar.
Nilai-nilai itu lahir dari pengalaman panjangnya sendiri — sebagai peserta MTQ, akademisi, pengajar, sekaligus ibu rumah tangga.
Di balik aktivitas mengajar dan membangun akademi, Laifa tetap menjalani keseharian yang tidak jauh berbeda dari banyak perempuan lainnya: membagi waktu antara keluarga, anak-anak, dan pekerjaan.
Justru sisi itulah yang membuat banyak murid merasa dekat dengannya.
Ia tidak hadir sebagai sosok yang sempurna, melainkan sebagai seseorang yang memahami bahwa proses belajar sering kali berjalan pelan dan tidak selalu mudah.
Kini, meski usianya masih relatif muda, El-Laifa Quran Academy membawa visi menjadi akademi Al-Qur’an online berstandar internasional.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, kisah Laifa menunjukkan satu hal sederhana: teknologi dan spiritualitas tidak selalu berjalan berlawanan.
Kadang, justru lewat layar kecil di tangan manusia modern, seseorang bisa kembali menemukan jalan pulang yang selama ini terasa jauh.****





















