SERAMBIISLAM.COM – Gerhana bulan atau khusuful qamar diprediksi akan terjadi pada 8 November 2022.
Kementerian Agama (Kemenag) menyebut berdasarkan data astronomis, Gerhana Bulan Total (GBT) bisa dilihat di seluruh wilayah Indonesia.
“Insyaallah, pada 8 November 2022, akan terjadi Gerhana Bulan Total di seluruh wilayah Indonesia,” kata Kamaruddin Amin dalam keterangannya, Jumat, 4 November 2022.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Perkuat Jejaring Profesional Industri Keuangan
Sundown Markette 2026 Tutup Besok, Penampilan Shakira Jasmine Jadi Penutup
PROPAMI Perkuat Literasi Pasar Modal Lewat Talkshow Ramadhan

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengajak umat Islam untuk melakukan salat gerhana atau salat khusuf.
Dia mengatakan telah menerbitkan seruan kepada para Kepala Kanwil untuk melaksanakan Salat Gerhana Bulan di wilayahnya masing-masing.
Seruan itu berisi instruksi Kepala Bidang Urusan Agama Islam/Kepala Bidang Bimas Islam/Pembimbing Syariah, Kepala Kemenag Kabupaten/Kota, dan Kepala KUA untuk bersama para ulama, pimpinan ormas Islam, imam masjid, aparatur pemerintah daerah.
Baca Juga:
“Pelaksanaan salat gerhana disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerahnya masing-masing,” kata Amin.
“Kami juga mengimbau masyarakat memperbanyak zikir, istighfar, sedekah dan amal saleh lainnya, serta mendoakan kesejahteraan dan kemajuan bangsa,” sambungnya.
Adapun tata cara Sholat Gerhana Bulan, sebagai berikut:
1. Berniat di dalam hati
2. Takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana salat biasa
3. Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaharkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah, “Nabi SAW menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana.”(HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)
4. Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya
5. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamd”
6. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama
7. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya
8. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal)
9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali
10. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana rakaat pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya
11. Salam***


















